Selasa, 02 September 2014

Make Up Stories

My make up stories

Karena pekerjaan saya yang mengharuskan untuk bersahabat dengan make up, disinilah awal saya bertemu dengan lika-liku kandungan make up.
Pertama,
saya berkenalan dengan semua produk Make Up For Ever, yang saya gunakan A to Z dari MUFE ini UV Prime SPF 50, HD Primer (ungu), Concealer 5 camouflage cream palette, Mat velvet fondation, HD pressed powder, Sculpting kit (for shading and hi light), Sculpting blush (blush on), Eye liner, Rouge artist intense (lipstick).
Dan jeng-jeng semua masih tersisa cukup banyak, tapi muka saya sudah protes, hiks, ternyata ini cukup keras dikulit saya. Satu pun tidak ada yang bisa saya pakai lagi...Saya pun pergi ke dokter kulit untuk menyembuhkan break out dll akibat salah memilih make-up yang cocok untuk kulit.
(perjalanan dokter kulit, akan saya ceritakan di page berikutnya).
Kedua,
saya menggunakan honey BB cream Face Shop, I like it so much, karena coveringnya memuaskan dan tidak membuat wajah berminyak, kala itu saya dalam kondisi kulit sedang perawatan dokter dan memiliki banyak luka atau bekas jerawat. Setelah perawatan semakin membuahkan hasil, muka saya sudan tidak bermasalah, bahkan saya tidak menggunakan base atau foundation ketika make-up, saya hanya menggunakan sunblock dan bedak tabur, tapi lama-lama pemakaian obat dokter ini membuat kulit saya merah dan semakin merah, walau hasilnya bersih, akhirnya saya menutupinya dengan BB Cream lagi, kali ini saya kembali ke Face Shop, yang Honey sudah tidak produksi, hikss..saya pilih Water Proof BB Cream Face Shop (coveringnya luar biasa, awet banget, tapi mungkin ini tidak terlalu bagus dikulit saya terlalu sering dan lama).
Make up pendukung, saya memilih Bobbi Brown, Sheer Finish Loose Powder (bisa menyamarkan noda-noda, biar lebih flawless), Bronzing Powder (super andalan, karena shadingnya tahan lama dan gak nge-block), Shimmer Brick Compact Rose (kadang-kadang dipakainya, kalau lagi berminyak ini jadi terlalu glowing), Long Wear Cream Shadow Stick (buat yang susah baur make up mata, ini ngebantu karena simple makenya, hasilnya juara),  Shandy Nude Eye Palette (buat hi lite bisa, buat namabah-nambah warna mata, ini oke banget), Benefit Brown Zings (suka banget bikin alis pake ini karena hasilnya natural dan oke), Benefit Lipstick Hydra (enak sih, tapi cepet ilang, apalagi kalo habis makan), Benefit They're Real Mascara (I dont like it, karena jadi numpuk, luntur, prefer Maybeline, atau bulu mata palsu aja), Liquid Effect Pencil Eye Liner Max Factor yang hitam (bagus tapi warnanya tidak terlalu hitam, jadi kalau mau nimbulin efek yang teges di mata, kayaknya ini kurang), Max Factor International Kohl Pencil yang putih (so far oke nih, karena efek putihnya gak lebay, buat dimata jadi bersinar) Nyx Softmate Lip Cream (punya warna Amsterdam merah merah cabe gitu, Monte Carlo nampol banget merahnya lebih berkelas, pas lah buat acara malam atau sengaja buat make up yang konsentrasinya ke bibir, Istanbul terlalu pucet menurut saya, Milan pun juga masih pucet zzz sama aja kaya Istanbul, Addis Ababa okelah buat siaran, tapi sehari-hari terlalu pink, San Paulo ini paling oke warnya, dibibir jadi seger pink natural pas banget yang ini kalo dibibir, bisa dipake buat jalan-jalan santai juga), Nyx Eye Liner The Curve (ini oke tapi cepet abis menurut saya), coba-coba Lip Crayon produknya Korea, lucu si warnanya tapi harus pake pelembab bibir dulu, dari Make Up For Ever, Benefit, Nyx, Lip Crayon sampai saat ini emang belum nemu yang oke dibibir, yang bisa tahan lama tapi moist dibibir, merk apa ya?
Satu yang gak pernah ketinggalan yaitu Vaseline Petroleum Jelly, ini biasa buat bibir sebelum pake lipstick, sebagai alas mata sebelum pake eye shadow tapi kalau pake shadow yang cream ini gak usah dipake ya, atau bisa buat kulit yang lagi pecah-pecah, produk ini must have sepertinya.
Ketiga,
Karena selama ini pakai bedak tabur dokter, dan hasilnya ya tidak terlalu awet, jadi dari hasil baca-baca dan tanya sana-sini, dapet rekomendasi Loose Powder Chanel, katanya sih awet dan gak bikin berminyak, karena suka impulsive sama make up, jadi selain beli Poudre Universelle Libre, juga beli Les Beiges Healthy Glow Sheer Powder (buat shading yang N5 atau N4), belum dicoba nih dua produk yang dibeli.
Jeng-jeng kulitnya tiba-tiba ngamuk, kena radang kulit...ini mengerikan sekali. Mungkin penyebabnya karena saya tidak bisa lepas dari BB Cream Water Proof itu, menurut saya.
Kalau kata dokter, radang ini karena kulitnya super sensitive, dan make up nya kesumbat di dalam, sehingga dibiarkan terlalu lama timbulah seperti ini, ini bisa juga karena faktor makanan atau lingkungan yang tidak terjaga, seperti air yang tidak bersih, balik lagi karena kulit saya sensitive, pemicunya bisa banyak.

Kamis, 19 Mei 2011

THEORIES OF MESSAGE PROCESSING

  • 3 CLASSIC MODELS OF PERSUASION:

A.THEORY OF COGNITIVE DISSONANCE

Cognitive dissonance says that the key concept for understanding this process is the need individuals have for consistency between their attitudes and behaviors. That is, if we behave in a way that is inconsistent with our attitudes, we feel an uncomfortable sense of dissonance that must be relieved in some way. We often maintain consistency in our attitudes by exposing ourselves only to messages that are consistent with our attitudes.

B.THEORY OF REASONED ACTION

According to the theory of reasoned action, two majors factor sets will predict your behavioral intention to exercise. The first of these is your attitudes about exercising. Attitudes are defined as the sum of beliefs about a particular behavior weighted by evaluations of those beliefs.

For example…

You might have the beliefs that exercise is good for your health, that exercise is good for your health, that exercise takes too much time, and that exercise is uncomfortable. Each of these beliefs can be weighted (health issue might be more important to you than issues of time and comfort). According to the theory, when you add these weighted beliefs, you have your attitude about exercise.

Behavioral intention: function W1A + W2SN

C.THEORY OF SOCIAL JUDGMENT

When you receive a message about an issue your reaction to the message will be influenced by the anchor of your existing structure of attitudes (the anchor is the centre of your latitude of acceptance).

Specifically, if you receive a message that is within your latitude of acceptance (close to your attitudinal anchor), you will judge the message to be closer to your own opinion than it actually is…..as assimilation!

When you receive a message that that is within your latitude of rejection, you will judge the message are more discrepant from your own position than it actually is…as contrast!

These process of Assimilation and Contrast are heightened when the issue at hand is important one to you, that is, if you are ego-involved in the topic.

  • ELABORATATION LIKELIHOOD MODEL

The model begins with the assumption that individuals are motivated (for social reasons) to hold “the correct” attitudes.

The elaboration likelihood model posits that there are two major routes to persuasions:

1. central route:

An individual will carefully scrutinizing the content of the message, looking at the strength of the arguments proposed. The central route involves message elaboration, in which a great many cognition (thoughts) about the message’s arguments are generated by the individual receiving the messages during the evaluations process.

If the thoughts generated in the elaboration process are favorable, acceptance the message content is likely. If unfavorable thoughts are generated, the individual will not accept the message…

2. peripheral route

The receivers does nit elaborate on the message through extensive cognitive processing of arguments. The receiver will rely on cues in the persuasion environment to guide decisions about message acceptance. This cues are generally unrelated to the logical quality of the message and might involve factors such as…

Spiral Of Silence Theory

“SPIRAL OF SILENCE” THEORY

(TEORI SPIRAL KEHENINGAN)


Central Assumptions:

  • One's perception of the distribution of public opinion influences one's willingness to express opinions.
  • The spiral of silence demonstrates why people are unwilling to express their opinions (publicly) when they are not believed to be in the majority. (teori spiral of silence ini mengunjukkan kenapa seseorang tidak berkeinginan untuk mengutarakan pendapatnya pada saat mereka tidak berada pada kelompok mayoritas)
  • People feel an increasing pressure to conceal their views and opinions when they believe they are in minority.
  • Individuals perceptions of the opinions of others is a critical factor in determining their willingness to express those opinions.

Key Concepts:

Fear of Isolation:

  • Individuals will alter their behavior (ie, speaking out on an issue) due to innate fear of social isolation.

--Perry Gonzenbach

  • "Fear of Isolation" is a key determinant of what the public (people) will talk about, which in turn shapes public opinion.
  • Individuals who fear isolation, because their own opinions may not be accepted tend to remain silent on the issue.

Climate of Opinion:

  • Because of the fear of isolation, people continuously scan their environment to try to assess the climate of opinion at all times.
  • Includes:
    1. Current distribution of opinion
    2. Future prospects for the distribution of opinion (i.e., who will win the debate on an issue)

--Noelle-Neumann

Hard Cores:

  • The minority that remains at the end of a spiral of silence process in defiance of threats of isolation.
  • A hard core can turn its back to the public, can close itself off completely when it finds itself in public, with strangers.

Quasi-statistical Sense:

  • The process by which people sense moods and changes in public opinion.
  • We use this to determine "which opinions and modes of behavior are approved or disapproved of in their environment, and which opinions and forms of behavior are gaining or losing strength."

--Noelle-Neumann

  • Individuals constantly monitor their environment to check on the distribution of opinions and the future trend of the opinion.

--Scheufele & Moy

Willingness to Speakout and Tendency to Remain Silent:

  • Individuals tend to publicly express their opinions and attitudes when they perceive their view to be dominant or on the rise.

--Scheufele & Moy

Media's Effect on theSpiral of Silence:

  • Mass media has a lasting effect on public opinion.
  • "The theory manintains that mass media work simutaneously with majority public opinion to silence minority beliefs on cultural issues."

--Defining Communication Theories

  • "Mass media, particulary TV, tells us not only what to think about, but also imposes their reality of what everybody else is---supposedly---thinking about."

--Tim Buell

  • "I have never found a spiral of silence that goes against the tenor of the media, for the willingness to speakout depends in part upon sensing that there is support and legitimization from the media."

--Noelle-Neumann

  • The media provide people with the words and phrases they can use to defend a certain point of view. If people find no current, frequently repeated expressions for their point of view, they lapse into silence; they become effectively mute.

--Noelle-Neumann

Application of the Spiral of Silence:

  • Noelle-Neumann quotes Tocquerville about religion in the eighteenth century in France.

People still clinging to the old faith were afraid of being the only ones who did so, and as they were more frightened of isolation than of committing an error, they joined the masses even though they did not agree with them. In this way, the opinion of only part of the population seemed to be the opinion of all and everybody, and exactly for this reason seemed irresistible to those who were responsible for this deceptive appearance.

Biographic Information:

Elisabeth Noelle-Neumann


  • Born in Berlin on December 19,1916
  • In 1937, studied journalism at the University of Missouri
  • Earned her Ph.D. when returning to the University of Berlin
  • At age 24, Noelle-Neumann became a staff writer for Das Reich
  • Founded a private opinion research organization
  • In the late 1960s developed a hypothesis about growth and the spread of public opinion
  • In 1971, conducted survey research and begun her "Spiral of Silence"
  • Noelle-Neumann is one of the most prominent living European analysts of mass communication
  • The Spiral of Silence theory has been said to be one of the most influential theories of public opinion
  • Currently, Noelle-Neumann is a professor emeritus of communications research at the University of Mainz



Dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neumann tahun 1984. Teori ini menjelaskan mengapa dan bagaimana orang sering merasa perlu untuk menyembunyikan (to conceal) pendapat-pendapatnya, preferensinya (pilihannya), pandangan-pandangannya, dsb., manakala mereka berada pada kelompok minoritas. Secara ontologis kita bisa melihat bahwa teori ini termasuk kategori ilmiah. Teori ini mempercayai bahwa sudah menjadi nasib atau takdir (fate) kalau pendapat atau pandangan (yang dominan) bergantung kepada suara mayoritas dari kelompoknya. Seperti halnya teori-teori yang lain, teori ini juga bukan tanpa kritik.

Berlakunya teori ini hanya situasional dan juga kontekstual, yakni hanya sekitar permasalahan pendapat dan pandangan pada kelompok. Sedangkan untuk ketentuan lain, seperti pendapat tentang suatu keahlian, misalnya untuk suatu penemuan ilmiah dan keahlian lainnya, tidak didasarkan pada pendapat kelompok.

Teori Spiral Keheningan ini juga dapat diuraikan sebagai berikut: individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi menentukan apakah individu itu akan mengekspresikan opini-opininya secara umum. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkung­annya, terutama dari media massa.

Media massa - dengan bias kekiri-kirian mereka - memberikan interpretasi yang salah pada individu-individu itu tentang perbedaan yang sebenarnya dalam opini publik pada berbagai isu. Media mendukung opini-opini kelompok kiri dan biasanya menggambarkan kelompok tersebut dalam posisi yang dominan.

Sebagai akibatnya, individu-individu itu mungkin mengira apa yang sesungguhnya posisi mayoritas sebagai opini suatu kelompok minoritas. Dengan berlalunya waktu, maka lebih banyak orang akan percaya pada opini yang tidak didukung oleh media massa itu, dan mereka tidak lagi mengekspresikan pandangan mereka secara umum karena takut akan terisolasi. Selama waktu tersebut, karena 'mayoritas yang bisu' tetap diam, ide minoritas mendominasi diskusi. Yang terjadi kemudian, apa yang pada mulanya menjadi opini minoritas, di kemudian hari dapat menjadi dominan.

Spiral keheningan mengajak kita kembali kepada teori media massa yang perkasa, yang mempengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang sama (Noelle-Meumann, 1973).

Orang-orang yang tidak terpengaruh oleh spiral kebisuan ini ialah orang-orang yang dikenal sebagai avant garde dan hard core. Yang dimaksud dengan avant garde di sini ialah orang-orang yang merasa bahwa posisi mereka akan semakin kuat, sedangkan orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok hard core ialah mereka yang selalu menentang, apa pun konsekuensinya (Noelle-Neumann, 1984).

Noelle-Newman (1984) menyatakan bahwa kekuatan media massa diperoleh dari:

(1) kehadirannya di mana-mana (ubiquity);

(2) pengulangan pesan yang sama dalam suatu waktu (kumulasi); dan

(3) konsensus (konsonan) tentang nilai-nilai kiri di antara mereka yang bekerja dalam media massa, yang kemudian direfleksikan dalam isi media massa.

Bukti-bukti yang diungkapkan oleh Noelle-Newmann (1980, 1981) diperoleh dari Jerman Barat, meskipun ia menyatakan bahwa "konsonan" itu iuga berlaku bagi demokrasi parlementer Barat dan sistem media yang dikontrol pemerintah. Tidaklah jelas apakah ia juga akan memperluas teorinya agar mencakup negara-negara yang sedang berkembang. Namun untuk kasus di Indonesia, masa peralihan pemerintahan Megawati ke Susilo Bambang Yudhoyono memiliki sisi-sisi yang cukup relevan dengan asumsi teori ini.

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono meletakan jabatan di penghujung kekuasaan Presiden Megawati, media massa ramai-ramai memberitakan mengenai peristiwa tersebut. Banyak media massa yang juga mengekspos perseteruan Susilo Bambang Yudhoyono dan Taufik Kiemas, suami presiden. Media menggambarkan Susilo Bambang Yodhoyono sebagai orang teraniaya, dan timbulah opini publik yang menyudutkan Megawati. Opini ini semakin meluas karena media massa mem-blow up secara besar-besaran. Suara pendukung Megawati yang membela kebijakannya semakin lama semakin tenggelam karena porsi yang diberikan media massa kepada mereka juga semakin mengecil. Dari realitas di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa memiliki banyak hubungan dengan pembentukan opini publik.

Wacana mengenai opini publik telah menjadi pertimbangan yang besar dalam pengambilan keputusan politik yang diambil oleh para elit politik. Teori yang dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Newman mengenai gelombang kebisuan merupakan pengembangan dari teori mengenai opini publik dengan melanjutkan analisis yang mampu menunjukan bagaimana komunikasi antar personal dan media bekerja bersama-sama dalam membangun opini publik. Asumsi dasar yang dikemukakan oleh Noelle-Newman adalah bahwa orang-orang pada umumnya secara alamiah memiliki rasa takut terkucil. Dan dalam pengungkapan opini, mereka berusaha menyatu dengan mengikuti opini mayoritas atau konsensus. Sumber konsensus utama adalah media massa, dan akibatnya para jurnalis yang mungkin memiliki pengaruh cukup besar untuk melakukan penetapan mengenai apa yang dipandang sebagai “iklim opini” yang berlaku pada saat tertentu dalam isu tertentu atau yang lebih luas.

Noelle-Newman sebenarnya adalah peneliti politik Jerman. Ia mengadakan observasi dalam pemilihan umum yang memperlihatkan adanya beberapa pandangan nampaknya lebih berjalan baik daripada pandangan yang lainnya. Kadang-kadang sebagian publik lebih memilih untuk diam saja atau membisu mengenai opini yang ada dalam pikiran mereka daripada memperbincangkannya. Jika opini umum dari media massa semakin tersebar dan meluas di masyarakat, maka semakin senyap suara perseorangan yang berlawanan dengan pendapat umum yang lebih dominan. Noelle-Newmann kemudian menyebut proses ini sebagai gelombang kebisuan. Penelitian yang dilakukannya berkaitan dengan kondisi di Jerman di tahun 1960 sampai dengan 1970-an, di mana Partai Demokrasi Sosial berkuasa pada saat itu. Kekuasaan partai ini tidak lepas dari peran media massa yang cenderung kekiri-kirian di masa itu, sejalan dengan ideologi Partai Demokrasi Sosial. Peran media massa yang seperti ini mampu menciptakan gelombang kebisuan di dalam khalayak yang tidak menyukai Partai Demokrasi Sosial. Yang tersisa hanyalah suara publik yang mendukung kebijakan Partai Sosial Demokrat (McQuail, 1996 : 252).

Ada beberapa ketidaksepakatan tentang kelayakan teori dan metodologi karya Noelle-Neumann ini. Pengritik melihat bahwa formulasi teorinya tidak lengkap, dan konsep-konsep utamanya tidak dijelaskan dengan memadai. Di samping itu, spiral kebisuan, sebagai teori opini publik, dikelompokkan bersama perspektifnya yang lain tentang masyarakat dan media massa. Di pihak lain, spiral kebisuan ini memperlakukan opini publik sebagai suatu proses dan bukan sebagai sesuatu yang statis. Perspektif itu juga memperhatikan dinamika produksi media dengan pembentukan opini publik (Glynn dan McLeod, 1985; Katz, 1981; Salmon dan Kline, 1983).

Studi yang belum lama ini dilakukan memberi dukungan empirik pada teori spiral kebisuan. Dalam evaluasi masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu komunitas di Waukegan, Illinois, Taylor (1982) menemukan bahwa orang-orang yang merasa opininya mendapat dukungan mayoritas akan lebih berani mengungkapkan pendapatnya. Demikian juga dengan orang-orang yang merasa bahwa opininya akan mendapat dukungan di kemudian hari (misalnya kelompok avant garde).

Dengan cara yang serupa, Glynn dan McLeod (1985) menemukan bahwa persepsi tentang apa yang dipercayai orang lain akan mempengaruhi ekspresi opini dan pemungutan suara. Mereka juga menemukan bahwa kelompok hard core di antara para pemilih lebih suka mendiskusikan kampanye politik daripada yang lain. Yang dimaksud dengan hard core di sini ialah orang-orang yang secara eksplisit menyukai seorang kandidat setelah melalui beberakali wawancara.

Di samping itu, Glenn dan McLeod (1985) melaporkan juga bahwa responden­-responden mereka lebih suka melibatkan diri dalam diskusi-diskusi politik dalam suatu pertemuan, jika orang-orang lain yang hadir di situ pandangannya sejalan dengan pandangan mereka.

Contoh kasus lainnya, Meskipun dalam posisi minoritas, namun karena dia seorang ahli dan teknisi komputer, misalnya, maka pendapat dan pandangannya mengenai komputer, akan tetap lebih dipercaya dibandingkan dengan mereka yang banyak jumlahnya namun tidak mengetahui perihal komputer.

Kita sebagai orang yang juga termasuk ke dalam kategori pemerhati masalah-masalah sosial komunikasi dan juga informasi, bisa mengembangkan teori ini dengan wawasan yang kita miliki masing-masing. Tidak perlu sama persis. Kita renungkan kata bersayap ini. ‘Diam adalah emas”, atau ‘diam bukan berarti setuju’, atau ‘diam berarti setuju’.

Diam adalah emas biasanya berlaku pada konteks teori spiral of silence. Daripada berbicara yang belum tentu didengar pendapatnya, maka lebih baik diam. Makna diam yang kedua, yakni diam bukan berarti setuju, juga masih dalam kerangka teori ini. Orang sering merasa lebih aman jika tidak mengeluarkan pendapatnya di forum-forum tertentu karena berbagai alasan. Misalnya karena tidak ada yang akan mendukung pendapatnya karena dia tergolong minoritas, atau mungkin malahan merasa inferior. Sedangkan makna ‘diam berarti setuju’ lebih sering terjadi pada kasus-kasus peminangan di masa dulu. Ketika seorang gadis dipinang oleh seorang jejaka dan orang tua si gadis bertanya tentang kesediaan si gadis untuk menikah dengan sang jejaka tersebut, maka jika si gadis ‘diam’, mungkin dianggapnya setuju. Pernikahan pun akhirnya dilaksanakan tanpa banyak gangguan. Perilaku ‘diam’ seperti ini di jaman sekarang juga masih banyak terjadi di desa-desa tertentu yang masih menjunjung adat leluhur. Namun toh perkawinannya juga relatif langgeng. Di jaman sekarang, makna ‘diam’ bisa sangat beragam. Misalnya, melamun, tidur, berpikir serius, menahan amarah, menggunjing orang dalam hati, mogok bicara, abstain, tidak ada pendapat dalam suatu forum, suruhan untuk tidak berbicara atau berperilaku tertentu kepada orang lain, orang yang sedang pingsan, koma, terkesima, dll. Kami yakin, Anda pun bisa membangun ‘teori’ (sebuah penjelasan yang benar) dengan menggunakan konsep ‘diam’, spiral of silence yang lain lagi.

KESIMPULAN

Spiral of Silence Theory (Elisabeth Noelle-Neumann 1971)

a. Latar Belakang:

· Teori ini muncul karena orang-orang dari kelompok minoritas sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapat dan pandangannya ketika berada dalam kelompok mayoritas. Dapat dikatakan bahwa seseorang sering merasa perlu menyembunyikan “sesuatu”-nya ketika berada dalam kelompok mayoritas.

b. Asumsi dasar:

· Media massa mempunyai dampak yang sangat kuat pada opini publik tetapi dampak ini diremehkan atau tidak terdeteksi di masa lalu karena keterbatasan riset. Dalam teori ini opini publik terbentuk melalui proses spiral kesunyian. Orang yang berada pada kelompok mayoritas sering merasa perlu mengubah pendiriannya karena jika tidak merubah ia merasa sendiri. Orang merasa perlu diam seandainya pendapat mayoritas bertolak belakang dengan dirinya. Bahkan ia merasa perlu merubah pendiriannya sesuai dengan kelompok mayoritas dimana dia berada kalau pendapat tersebut tidak merugikan dirinya.

c. Prinsip penting teori tersebut:

· Media massa memainkan peran penting dalan spiral kesunyian karena media massa merupakan sumber yang diandalkan orang untuk menemukan distribusi opini publik.

· Media massa memainkan peran penting ketika orang berusaha untuk menentukan opini mayoritas.

· Individu mempunyai organ indra yang mirip statistik yang digunakan untuk menentukan “opini dan cara perilaku mana yang disetujui atau tidak disetujui oleh lingkungan mereka, serta opini dan perilaku mana yang memperoleh dan kehilangan kekuatan.”

· Opini yang berkembang dalam kelompok mayoritas dan kecenderungan seseorang untuk diam karena berasal dari kelompok minoritas juga bisa dipengaruhi olehn isu-isu dari media massa.

· Salah satu alasan individu-individu dari kelompok minoritas dan sedang berada dalam kelompok mayoritas merasa perlu untuk diam adalah dia tidak mau diisolasi dari pergaulan sosial dimana dia berada.

d. Kelebihan :

· Dengan hadirnya teori ini, membantu kalangan minoritas secara tidak langsung.

e. Kelemahan :

· Jika seseorang mempunyai keinginan yang kuat, maka orang tersebut tidak akan mudah mengikuti opini mayoritas yang ada di sekitar nya.



Quo Vadis Pendidikan Indonesia?

MUTU LULUSAN RENDAH

Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) yang berlaku saat ini tidak menghasilkan mutu lulusan yang berkualitas, maka harus dirombak. Seluruh unsur yang ada dalam sisdiknas itu merupakan hal-hal yang sangat krusial dalam menentukan mutu lulusan, seperti: (1) kesempatan dalam memperoleh pendidikan tidak merata, (2) kompetensi dan jaminan tenaga pengajar belum memadai, (3) kurikulum tidak sesuai dengan keragaman peserta didik, (4) kualitas lembaga pendidikan belum memadai, dan (5) sistem evaluasi tidak berjalan dengan semestinya. Kinerja seluruh unsur yang ada tersebut terlihat dari hasil mutu lulusan yang rendah beberapa tahun ini.

Perlunya perombakan dalam sisdiknas di Indonesia tersebut karena kesempatan siswa dalam memperoleh pendidikan yang tidak merata berhubungan dengan keadaan geografis Indonesia, status sosial dan ekonomi keluarga yang ada di Indonesia, dan juga dapat dikaitkan dengan status gender yang masih membudaya di Indonesia. Sangat terlihat dari keadaan geografis Indonesia itu sendiri yang terdiri dari berbagai pulau dan terpisah oleh lautan. Siswa yang berada di pusat kota atau berada dalam kota besar akan memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik dibanding dengan siswa yang berada jauh di luar pusat kota karena mereka mempunyai akses yang lebih luas dalam memperoleh pengetahuan dan informasi serta dengan proses yang lebih cepat. Dalam status sosial-ekonomi keluarga pun merupakan hal yang mempengaruhi mutu lulusan. Tidak sesuainya tingkat soal UN yang diberikan oleh pemerintah dengan pengajaran yang diberikan guru membuat siswa-siswa harus melakukan les tambahan pelajaran untuk mencapai keberhasilan pada UN. Les tambahan tersebut pastilah memerlukan biaya. Status sosial-ekonomi keluarga yang rendah tentu tidak dapat membiayai anak mereka untuk mengikuti les tambahan dapat menjadi korban sebagai siswa yang gagal dalam menghadapi UN. Sangat disayangkan jika hal ini terjadi terus-menerus dan menjadikan siswa sebagai satu-satunya subjek yang disalahkan akan kegagalan dalam UN yang dihadapinya. Padahal tingkat kelulusan akan tercapai maksimal jika pemerintah memperbaiki sisdiknas. Siswa-siswa yang berada pada status sosial-ekonomi rendah pun akhirnya dapat memperoleh pendidikan yang sama dan sesuai dengan tingkat soal yang diujikan pada UN, sehingga UN tidak lagi menjadi “momok” bagi siswa-siswa berstatus sosial-ekonomi rendah. Walaupun tidak begitu erat kaitannya dengan sisdiknas, tetapi masalah status gender merupakan hal yang cukup penting yang dibicarakan diberbagai kesempatan oleh berbagai kalangan. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan, karena toh akhirnya yang bertanggung jawab mencari nafkah adalah laki-laki. Masalah ini perlu dijadikan sebagai pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa Indonesia.

Sisdiknas harus dirombak karena kompetensi dan jaminan tenaga pengajar tidak memadai. Kualitas guru-guru kita masih perlu dipertanyakan. Apakah guru-guru tersebut sudah menguasai bahan ajar dengan baik? Sudah tepatkah metode pengajaran yang diberikan guru kepada siswanya? Bagaimana loyalitas guru dalam memajukan pendidikan bangsa? Kita dapat bercermin pada pengalaman kita sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saat ini mutu guru-guru yang mengajar dalam lembaga pendidikan resmi banyak yang masih harus dipertanyakan. Pemerintah kurang memerhatikan kompetensi guru yang mengajar di dalam institusi resmi ini sehingga keadaan seperti ini berlarut-larut dan tidak ada habisnya. Guru merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan kelulusan siswa. Pada kenyataannya banyak guru yang tidak mampu mengajar selayaknya seorang guru yang kompeten dalam bidangnya, mereka tidak memiliki wawasan yang cukup luas. Dalam metode pengajaran juga masih banyak guru yang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi sehingga siswa sendiri tidak dapat dengan mudah mengerti pelajaran yang diajarkan. Sangat disayangkan jika bangsa ini terus-menerus memelihara guru-guru yang tidak berkualitas, bukan hanya merugikan siswa melainkan juga nantinya akan merugikan bangsa Indonesia. Saat ini sertifikasi guru benar-benar harus diperhatikan. Menurut Direktur Pembinaan dan Pelatihan – Sumarna Surapranata – di saat acara Rembuk Nasional Pendidikan 2007 Depok, menyatakan bahwa bila guru-guru belum cukup memenuhi persyaratan maka akan diberi pelatihan dan sangat dibutuhkan riwayat hidup guru tersebut (sumber: Kompas, Rabu, 11 April 2007). Semoga saja hal ini benar-benar direalisasikan, sehingga kualitas guru menjadi meningkat. Lagi-lagi terbentur oleh faktor ekonomi, tidak hanya keadaan siswa yang tidak mampu yang menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan dalam UN tetapi juga gaji guru yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Membingungkan memang, pekerjaan seorang guru di Indonesia tidak begitu dihargai, sedangkan di negara-negara maju dan berkembang lainnya begitu menghargai profesi seorang guru. Bagaimana guru bisa menghasilkan kualitas yang terbaik untuk siswanya jika guru itu sendiri tidak mendapatkan yang terbaik bagi dirinya? Untuk hidup cukup saja guru di Indonesia harus mencari pekerjaan tambahan di luar selain menjadi guru yang mengajar di sekolah, misalnya membuka les tambahan atau mengajar di tempat-tempat bimbingan belajar. Keadaan seperti ini yang menjadikan guru tidak fokus dalam mengajar, misalnya sering datang terlambat saat mengajar atau menjadi tidak semangat dalam mengajar karena kelelahan bekerja seharian. Loyalitas seorang guru pun memudar akibat hal seperti ini. Terasa sekali bahwa pendapatan seorang guru sangat memengaruhi kualitas guru tersebut dalam mengajar. Dan yang lebih parahnya, para guru malah memanfaatkan kondisi-kondisi seperti pelaksanaan UN. Saat seperti ini menjadi “lahan basah” buat para guru dalam mencari tambahan “sesuap nasi”. Mereka “menjual” jawaban atau melakukan tindakan curang lainnya, seperti dalam harian Kompas, Sabtu 28 April 2007, para guru melaksanakan aksi kecurangan dengan memberikan jawaban kepada peserta UN. Entah motif apa yang ada di dalam benak para guru tersebut sehingga rela melaksanakan tindakan yang sangat memalukan itu. Di mana idealisme seorang guru? Apakah idealisme seorang guru terkalahkan oleh kondisi perut yang lapar?

Kurikulum tidak sesuai dengan keragaman peserta didik karena kurikulum yang digunakan pemerintah kepada peserta didik dirasakan tidak berdasar pada syarat-syarat tertentu dalam penerapannya. Kurikulum Berbasis Kompetensi atau biasa disingkat KBK hanya bagus diterapkan di sekolah yang memang kemampuan siswanya dapat menyerap pelajaran dengan metode seperti halnya sistem pengajaran di lembaga perkuliahan. Namun saat ini ternyata penerapan KBK hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa sistem pendidikan terlihat berkembang dan maju. Padahal apabila KBK diterapkan kepada siswa yang tidak siap atau sanggup mengikuti pola belajar-mengajar seperti itu, malah mengakibatkan siswa “keteteran” mengejar mata pelajaran karena siswa dituntut untuk aktif mencari bahan pelajaran sendiri, aktif bertanya kepada guru, siswa tidak melulu diberi pengajaran secara rutin oleh guru melainkan hanya terdapat pembahasan-pembahasan atas materi yang tidak dimengerti oleh siswa. Letak permasalahannya, tidak semua siswa dapat mengikuti metode pembelajaran seperti itu. Seharusnya pemerintah dapat memilah-milah terlebih dahulu sistem KBK yang akan diterapkan di sekolah-sekolah. Mungkin bisa dengan melakukan tes akademik dan psikotes terlebih dahulu terhadap sekolah yang akan menggunakan sistem KBK. Apalagi terdapat pembedaan batas nilai kelulusan UN terhadap sekolah yang menggunakan KBK dengan sekolah yang tidak menggunakan KBK. Terlihat seakan sistem KBK lebih unggul dibanding dengan sistem non-KBK. Apakah pemerintah memang merencanakan adanya pembedaan terhadap generasi penerus bangsa ini? Jika hal seperti ini tidak diperhatikan, siswa lagi yang menjadi korban ketidaklulusan dalam UN dan setiap tahunnya tingkat kegagalan siswa dalam UN bukan bekurang melainkan meningkat. Tentu keadaan seperti ini jangan sampai terus terjadi di Indonesia. Penerapan sistem non-KBK juga jangan sampai tertinggal jauh. Seharusnya kualitas antar KBK dan non-KBK tetap sama tetapi perbedaanya lebih kepada sistem pengajarannya saja atau kemasannya saja. Isi yang diberikan haruslah sama. Inilah mengapa terlihat seperti tidak adil, jika dilihat dari kemampuan yang akan diperoleh siswa KBK akan lebih menguntungkan siswa karena banyak hal yang akan siswa dapat dan juga siswa lebih terlatih kemampuan aktualisasi dirinya, KBK juga lebih menjalani prinsip two way communication yaitu tidak selalu guru yang memberikan pengajaran dan tidak selalu guru yang paling benar yang mengakibatkan siswa harus menyerap keseluruhan apa yang diberikan guru. Sedangkan pada sistem non-KBK siswa tetap mendapatkan pola pengajaran yang siswa hanya mendapat ilmu dari guru, siswa tidak dituntut untuk aktif, siswa menyerap seluruh pelajaran yang diberikan gurunya sehingga terjadi one way communication saja. Keadaan seperti ini yang harus diperhatikan pemerintah, jika sisdiknas tidak dirombak dengan menyesuaikan situasi dan kondisi di lapangan maka terus-menerus menjadi masalah. Terkesan bahwa pemerintah hanya membenahi hal-hal yang berkaitan dengan jumlah lulusan tetapi melupakan hal-hal yang berhubungan dengan mutu lulusan itu sendiri.

Hasil UN merupakan representasi prestasi siswa selama menempuh pembelajaran di dalam lembaga pendidikan. Tidak ada yang salah terhadap diterapkannya UN di Indonesia ini, tetapi kesalahan justru terhadap unsur-unsur yang ada di dalam sisdiknas itu sendiri. Salah satunya adalah kualitas lembaga pendidikan di Indonesia sangat tidak merata sementara UN merupakan ujian yang dilaksanakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Pantas saja mental siswa dalam menjalani UN ini terlihat sangat berbeda-beda, ada yang siap, ada pula yang tidak siap karena UN yang diberikan pemerintah tidak sesuai dengan kondisi yang ada di lembaga sekolah-sekolah. Kadang, sekolah lupa untuk melihat diri bahwa untuk mencapai tingkat kelulusan pada seluruh siswa seperti yang diinginkan pihak sekolah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor yang dapat mendukung siswa dalam proses belajar mengajar tetapi tidak dihiraukan oleh pihak sekolah. Fasilitas yang diberikan oleh pihak sekolah pun sampai saat ini masih ada saja yang belum menunjang siswa dalam menuntut ilmu, seperti adanya laboratorium bahasa. Bayangkan pada saat pelaksanaan UN mata pelajaran Bahasa Inggris, siswa dituntut mengerjakan soal dengan metode listening, metode yang memang bagus untuk digunakan tetapi dalam praktek sehari-hari di sekolah tidak pernah diperkenalkan kepada siswanya. Hal ini tentu saja berbenturan dengan keadaan fasilitas sekolah yang tidak mendukung. Banyak sekolah yang tidak memiliki laboratorium bahasa dan banyak juga sekolah yang tidak memiliki alat pengeras suara di setiap kelasnya. Menggunakan teknologi yang minim dalam pelaksanaan UN membuat siswa sendiri tidak dapat dengan jelas mendengarkan soal yang diberikan, sehingga siswa yang seharuanya dapat menjawab dengan benar menjadi salah karena alat yang tidak memadai yang digunakan pihak sekolah. Salahkah siswa tersebut jika tidak lulus dalam UN? Saat ini pemerintah setidaknya melihat keadaan sekolah yang ada di Indonesia. Dengan begitu sistem UN akan dapat terlaksana dengan baik dan siswa sendiri dapat menjalani UN tanpa perasaan cemas akibat tidak siap.

Jumlah tenaga pendidik yang ada di Indonesia saat ini masih sangat minim, apalagi jika dilihat dari sisi kualitasnya, semestinya guru tersebut tidak layak untuk mengajar. Rata-rata kebanyakan guru yang memiliki kualitas baik berada di sekolah tertentu saja, sehingga ketidakmerataan ini mengakibatkan ketimpangan siswa dalam menjalani proses belajar. Keadaan seperti ini sangat berpengaruh pula pada nilai UN yang diperoleh oleh seluruh siswa. Siswa yang tidak mendapat tenaga pendidik yang berkualitas cenderung lebih rendah hasil akhirnya dibanding dengan siswa yang diajarkan oleh tenaga pendidik berkualitas. Keadaan yang sangat tidak adil, seharusnya seluruh siswa tidak mendapatkan pembedaan seperti ini, siswa memiliki hak yang sama dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Dari semua permasalahan yang harus dibenahi, pada akhirnya fungsi evaluasi dalam sistem juga ikut menentukan. Kecurangan dalam sistem penilaian ini ternyata tidak hanya terjadi di dalam pelaksanaan UN, tetapi sebenarnya sudah terjadi sejak awal siswa menjalani proses evaluasi itu sendiri. Pada saat siswa menjalani Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS), siswa sudah menjalankan tindak kecurangan dalam berbagai hal. Tidak hanya siswa bahkan guru pun ikut mendukung aksi tersebut. Tidak ada gunanya diadakan evaluasi belajar-mengajar yang tujuannya untuk mengukur tingkat kemampuan siswa tetapi dirusaki dengan kecurangan-kecurangan. Di satu sisi, siswa merasa takut dan malu jika mendapat nilai jelek dalam evaluasi ini dan dipihak lain guru juga merasa takut ditegur akibat siswanya tidak dapat menyerap pelajaran dengan baik karena terbukti dari nilai-nilai siswa itu sendiri. Maka kedua-duanya merasa perlu “menghalalkan” tindakan contek-mencontek demi “kebaikan” mereka. Pola pikir seperti ini perlu dihentikan karena akan berdampak buruk pada pembangunan karakter bangsa kita nanti. Jika tidak maka pada pelaksanaan UN siswa merasa sudah terbiasa dengan mental mencontek dan guru yang diberikan wewenang untuk mengawasi pun juga terbiasa membiarkan siswanya mencontek. Kelonggaran pengawasan yang terdapat pada pelaksanaan UN ini perlu mendapat perhatian lebih saksama lagi. Sistem pengawasan saat pelaksanaan UN tidak terlalu ketat, terbukti dari liputan pelaksanaan UN di Bali, siswa menggunakan handphone untuk bertanya jawaban dibiarkan oleh pengawas setempat. Ironis sekali melihat keadaan seperti itu, di mana moral seorang yang berada dalam lembaga pendidikan yang seharusnya mengajarkan dan menanamkan moral yang baik kepada siswanya malah bertindak seakan-akan kecurangan tersebut adalah hal yang wajar untuk dilaksanakan. Pantas saja bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari keterpurukan, karena tidak ada individu yang benar-benar menjalankan segala sesuatunya sesuai aturan. Jika ada pasti akan berbenturan dengan penguasa-penguasa yang memiliki wewenang kekuasaan. Perlu diterapkan pengawasan ekstra ketat pada lembaga pendidikan karena dimulai dari lembaga inilah karakter bangsa kita dibangun. Masalah ini jangan dibiarkan terus-menerus, harus ada tindakan yang tegas terhadap pelaku tindak kecurangan ini. Untuk itu sisdiknas harus segera dirombak sampai ke akar-akarnya, tidak hanya sekadar sistem evaluasi (UN) dan pelaksanaan pengawasannya.

Ringkasan :

Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) merupakan hal yang sangat erat hubungannya dengan diselenggarakannya UN. UN yang ada saat ini begitu banyak ketidaksesuaian terhadap sisdiknas, maka perlunya sebuah penyelarasan dalam sistem UN dengan sisdiknas, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dapat diminimalisasikan.

Kesempatan memperoleh pendidikan merupakan bentuk terealisasinya Hak Asasi Manusia, jika setiap siswa mendapatkan bentuk pendidikan tidak merata berarti terdapat kesalahan dalam sistem yang ada di lembaga pendidikan. Kesempatan siswa di mana saja, baik di kota maupun di desa harus sudah diperhatikan dalam kebijakan pemerintah. Status sosial-ekonomi siswa pun jangan dijadikan penghalang bagi siswa yang ingin mencapai mutu kelulusan yang berkualitas, maka pemerintah harus dapat membenahi sisdiknas. Status gender yang masih terdapat di beberapa daerah di Indonesia juga harus dapat diatasi oleh pemerintah agar ketimpangan pendidikan antargender dapat dihilangkan.

Kompetensi dan jaminan tenaga pengajar tidak memadai, keadaan seperti ini yang memang sangat berpengaruh pada tingkat kelulusan siswa. Tenaga pengajar saat ini banyak yang tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan. Jika dari gurunya saja pemerintah tidak dapat mengatasi maka akhirnya berdampak pada tingkat kelulusan siswa. Selain dari kualitas guru, sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar kalimat bahwa gaji seorang guru tidak cukup membiayai kehidupan keluarganya. Hal ini membuat guru-guru yang ingin memenuhi kebutuhan keluarganya harus mencari uang tambahan di luar gaji sebagai seorang tenaga pengajar di sekolah. Kualitas guru itu sendiri terasa berbeda, misalnya saat mereka mengajar disebuah bimbingan belajar yang memberikan gaji lebih besar dibanding dengan gaji yang didapatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Kurikulum tidak sesuai dengan keragaman peserta didik. Kurikulum yang ditetapkan pemerintah terhadap sekolah-sekolah saat ini tidak berdasar pada landasan yang cukup kuat, sehingga banyak sekolah-sekolah yang belum mampu menerapkan sistem KBK tetapi sudah menjalankan sistem tersebut yang pada akhirnya siswalah yang menjadi korban akan kurikulum. KBK dan non-KBK juga seharusnya tidak terdapat pembedaan. Kualitas dari sistem KBK seakan jauh lebih baik dibanding dengan non-KBK, terlihat dari segi soal UN yang diberikan. KBK mendapatkan tingkat soal yang kadar kesulitannya lebih tinggi dibanding dengan non-KBK dan juga batas nilai kelulusan pun KBK lebih tinggi dibanding dengan non-KBK. Karena terkesan sistem KBK lebih unggul, maka banyak pihak sekolah yang memaksakan penerapan sistem KBK pada siswanya padahal belum sanggup menerapkannya, akhirnyab siswalah yang menjadi korban.

Kualitas lembaga pendidikan tidak merata. Hal yang sering diungkap oleh pemerintah bahwa subsidi sudah dijalankan dan disalurkan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan, tetapi pada kenyataannya masih banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas yang memadai dan menunjang siswanya dalam melaksanakan UN. Apalagi tidak meratanya kualitas guru yang mengajar di sekolah-sekolah juga menjadikan siswa selalu terbentur akan masalah kegagalan dalam menjalani UN.

Sistem evaluasi belajar-mengajar tidak mendukung. Inilah masalah utama yang perlu diperhatikan secara saksama. Jika unsur-unsur di atas sudah dapat diatasi dengan baik tetapi fungsi evaluasi tidak dapat dijalankan dengan semestinya sama saja menuangkan air pada gelas yang bocor. Pelaksanaan sistem evaluasi yang curang erat kaitannya dengan pengawasan yang dilakukan. Masalahnya saat ini pengawas yang seharusnya bertugas mengawasi malah melakukan tindak kecurangan atas dasar motif tertentu. Hal inilah yang membuat sisdiknas harus dirombak secara menyeluruh dari unsur-unsur yang berkaitan dengan siswa, guru, kurikulum, fasilitas, dan sistem evaluasi.

Kesimpulan Akhir :

Sisdiknas harus dirombak karena tidak menghasilkan mutu lulusan yang berkualitas, hal ini terlihat dari banyaknya kegagalan siswa dalam menjalani UN. Seharusnya masalah tersebut dapat dihindari jika Sistem Pendidikan Nasional ini sudah terdapat kejelasan akan pelaksanaannya, seperti kesempatan memperoleh pendidikan sudah merata, kompetensi dan jaminan tenaga pengajar sudah memadai, kurikulum sesuai dengan keragaman peserta didik, kualitas lembaga pendidikan merata, dan yang terpenting sistem evaluasi belajar-mengajar mendukung dengan terlaksananya pengawasan yang mendukung pula. Tidak ada yang salah dengan sistem UN yang selalu diganti oleh pemerintah setiap tahunnya demi membangun pendidikan yang berkualitas tetapi dalam hal ini pemerintah seharusnya lebih menelaah sistem-sistem yang terdapat di dalam pendidikan nasional terlebih dahulu. Jika masalah-masalah tersebut teratasi barulah dicari suatu sistem penilaian baku (UN) yang akan dilaksanakan nantinya. Semakin pemerintah meningkatkan kualitas UN sudah semestinya pemerintah juga meningkatkan unsur-unsur yang ada di dalam sisdiknas. Kesalahan ini yang akhirnya sering berbenturan dengan siswa. Tujuan dan keinginan yang tadinya ingin memberikan dampak positif untuk siswa malah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Sangat disayangkan, karena sistem memang tidak dapat berdiri sendiri, pasti saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lainnya. Tidak perlu secara “instan” meningkatkan kualitas pendidikan dalam bangsa ini tetapi dengan proses yang matanglah yang nantinya akan berhasil melahirkan generasi penerus bangsa yang terbaik untuk membangun bangsa. Qua Vadis Pendidikan Indonesia?

Rasionalisme vs Empirisme

Bagaimana menurut pandangan Anda mengenai paham Rasionalisme dan Empirisme. Manakah yang paling benar?

EMPIRISME

a. Pengertian Pokok

Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasip menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut

penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otal dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut.

Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.

b. Tokoh-tokohnya.

1. Francis Bacon (1210 -1292)

2. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

3. John Locke ( 1632 -1704)

4. George Berkeley ( 1665 -1753)

5. David Hume ( 1711 -1776)

6. Roger Bacon ( 1214 -1294)

RASIONALISME.

a. Pengertian Pokok.

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.

Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).

b. Tokoh-tokohnya

1. Rene Descartes (1596 -1650)

2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)

3. B. De Spinoza (1632 -1677 M)

4. G.W.Leibniz (1946-1716)

5. Christian Wolff (1679 -1754)

6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)